Berburu Oleh-oleh Khas Wisata Yogya, Selain Gudeg


Selain memiliki tempat-tempat wisata yang beragam, Yogyakarta memiliki makanan-makanan khas unik selain gudeg. Salah satu makanan khas itu berbahan dasar ketela seperti kue Cakra Tela, tiwul dan gatot.

Menurut Direktur Pusat Oleh-Oleh khas Yogyakarta Cokro Tela Firmansyah Budi Prasetyo makanan khas ini jadi favorit wisatawan selama Lebaran 2017. Ia mengatakan penjualannya bahkan meningkat hingga 30 persen dibanding hari-hari biasa sebelum Lebaran.

"Ada kenaikan penjualan, namun tidak begitu besar, kira-kira sekitar 20 sampai 30 persen dibanding hari biasa," kata Budi di Yogyakarta, Rabu (28/6/2017) seperti dikutip Antara.

Budi menjelaskan makanan khas Yogyakarta yang diproduksinya merupakan roti berbahan dasar dari ketela atau singkong.

"Dari 35 jenis varian kue yang ada, peminat terbanyak jenis bolu panggang dan bolu kukus. Selain aneka cake dan jenis kue, ada bakpia, coklat dan aneka oleh-oleh khas Yogyakarta," kata dia.

Ia juga menyebut harga makanan yang ditawarkan termasuk murah mulai dari Rp30.000 per kotak untuk jenis cake standar.

"Selain menjual kami juga mengedukasi masyarakat akan pentingnya pangan lokal. Meski demikian, kendala kami ada pada masih naik turunnya kualitas dari bahan baku yaitu tepung singkong (mocaf) dan singkong segar," kata dia.

Selain kue berbahan dasar ketela, makanan khas tiwul dan gatot juga jadi favorit para wisatawan di Gunung Kidul, Yogyakarta.

Pemilik gerai tiwul, Agus Lambang, Selasa (26/6) mengatakan pada masa libur Lebaran 2017 gerainya dipadati pembeli, terutama para pemudik yang membeli tiwul untuk dibawa ke kota sebagai oleh-oleh.

Warung satu-satunya yang secara khusus menyediakan makanan khas Gunung Kidul ini pada pascalebaran ini setiap harinya dibanjiri pembeli. Dengan harga antara Rp12.000 hingga Rp15.000 untuk gatot maupun tiwul, pembeli sudah mendapat satu besek.

"Kalau lebaran ini setiap harinya laku lebih 300 dus besek. Padahal hari biasa rata-rata hanya 30 besek," kata Agus.

Ia menjelaskan tiwul atau gatot yang dibuat juga disesuaikan pesanan konsumen, dengan rasa original tepung ketela dicampur gula jawa, rasa nangka, rasa keju, rasa pandan, rasa kopi, dan coklat. Tiwul atau gatot yang dikemas dalam dus terbuat dari bok sesuai selera pembeli, asin atau manis, selanjutnya diberi parutan kelapa.

Proses pemasakan yang sempurna dengan kayu bakar, dan tanpa pengawet hanya bisa bertahan satu hari dan jika dimasukkan ke dalam kulkas bisa dua hari.

"Kalau hanya dibawa ke Jakarta atau luar Jawa, bisa membawa tiwul dan gatot instan, karena kami tak menggunakan pengawet," kata dia.

Komentar (0)

Posting Komentar